Setelah beberapa tahun memiliki cita-cita menjadi penulis
dan membuat beberapa blog yang isinya tidak pernah rapih, akhirnya saya diberi
kesempatan untuk memiliki website sendiri dengan domain .com. Terima kasih
untuk teman saya yang sudah memfasilitasi terbuatnya website ini, sebab website
ini adalah salah satu cita-cita dan keinginan terbesar saya dan website ini
juga akan menjadi wadah yang akan memaksa saya untuk tetap menulis. Seperti
kata Agus Noor, untuk menjadi penulis dibutuhkan ketelatenan. Agus Noor saja
rutin menulis lima jam perhari. Lah saya?
Sejak menginjak bangku SMA, saya sudah mematenkan diri saya
untuk menggemari menulis. Sebenarnya bukan hanya mematenkan, tapi memang
kenyataannya begitu. Menulis dimulai dari apa saja, dari menulis buku harian,
sms panjang, atau menulis blog. Saat SMA, saya bergabung dalam ekstrakurikuler
Mading (Majalah Dinding) yang di dalamnya meliputi kegiatan pembuatan mading
dan majalah sekolah. Selain itu, saat SMA saya juga rajin mengirimkan
artikel-artikel untuk dimuat di koran atau lomba-lomba menulis online.
Biasanya, saya akan mencari lomba-lomba menulis yang free saja. Biasanya lomba yang free akan memiliki lebih banyak
pesaing, tapi tak apalah, hal itu bisa menambah semangat saya untuk menulis.
Fiksi atau Nonfiksi? Saya suka menulis keduanya. Sebenarnya
sejak kecil saya rajin menulis buku harian di komputer saya (saat kecil belum
ada laptop) ya walaupun saat itu penyakit alay dan labil masih keren di
usia-usia saya yang menginjak awal belasan. Buku harian adalah salah satu bentuk
tulisan nonfiksi, karena didasarkan pada kisah nyata. Saya ingat sekali dulu
saya menulis buku harian saya di Microsoft word, kemudian menguncinya
menggunakan password yang hingga saat ini masih saya ingat passwordnya. Seperti
kata orang bijak yang mengatakan bahwa “tulisan akan membuatmu abadi”, ketika
saya membuka kembali tulisan-tulisan lama saya, saya bisa kembali mengingat apa
yang telah saya lakukan di setiap detik yang saya jalani #tsaaah
Sebenarnya lebih enak menulis fiksi atau nonfiksi? Keduanya
sama-sama enak jika kamu menganggapnya begitu. Tapi menurut saya pribadi,
nonfiksi terdiri dari banyak jenis, karya ilmiah adalah salah satu bentuk
tulisan nonfiksi pula. Nah tulisan yang ilmiah seperti ini akan lebih sulit
untuk ditulis karena tentunya membutuhkan pemahaman yang berlebih mengenai
sesuatu. Tulisan harian atau berita juga salah satu bentuk tulisan nonfiksi,
tapi menurut saya itu lebih mudah karena berdasarkan kenyataan. Pernah juga
saya membuat tulisan nonfiksi yang difiksikan, yang biasanya terkenal dengan
nama “based on True Story”. Tulisan
seperti ini akan menjadi lebih menarik, karena biasanya akan diberi bumbu-bumbu
tambahan yang membuat konfliknya semakin menjadi-jadi.
Tulisan fiksi dan nonfiksi sama-sama memiliki pangsa pembaca tertentu. Pada dasarnya semua orang suka membaca, kalaupun tidak suka mereka akan tetap membaca setiap harinya. Apalagi di era gadget seperti ini dimana aplikasi chatting menjamur dan sudah menjadi kebutuhan pokok layaknya sandang pangan papan lalu chattingan.
Tulisan fiksi dan nonfiksi sama-sama memiliki pangsa pembaca tertentu. Pada dasarnya semua orang suka membaca, kalaupun tidak suka mereka akan tetap membaca setiap harinya. Apalagi di era gadget seperti ini dimana aplikasi chatting menjamur dan sudah menjadi kebutuhan pokok layaknya sandang pangan papan lalu chattingan.
Last, dimulai dari
empat ratus kata, sejak hari ini saya akan aktif mengisi website saya karena
akan terancam ditutup jika saya tidak mau menulis (sedih L). Mari kita budayakan
menulis para generasi muda, agar kelak kita bisa memberikan cucu-cucu kita
cerita kita saat kita masih muda dulu. Sebuah cerita yang akan hilang ditelan
waktu jika kita tidak menulisnya. Kegiatan menulis rutin, dimulai...
0 komentar:
Posting Komentar