Untuk pergi, banyak hal yang harus kau korbankan. Kau harus
menghilangkan semua kebiasaan-kebiasaan yang membahagiakanmu, serta yang
membuatmu tersenyum dan berdebar tiap harinya.
Untuk pergi, kau tidak perlu membawa banyak hal untuk
disesali. Semua pertemuan memiliki jalannya sendiri. Ada yang datang untuk
kemudian ditinggalkan begitu saja, dan ada yang datang lalu menyisakan
kenangan.
Ada satu juta alasan untuk pergi dan satu juta alasan untuk
tinggal. Kau harus memilih mana satu juta yang akan kau lipatgandakan menjadi
seratus juta alasan kemudian. Satu juta alasan untuk tinggal akan menghasilkan
kenangan-kenangan yang akan memberikan senyum bagimu di kemudian hari. Satu
juta alasan untuk pergi akan membawamu menuju masa depan penuh senyuman.
Pada intinya, baik pergi atau tetap tinggal, aku akan tetap
tersenyum. Hidup penuh pilihan yang menyulitkan. Mungkin memang tak pernah
sesulit soal ujian fisika saat SMA, tapi hidup tidak mengenal remidi.
Awalnya aku kira untuk pergi akan begitu mudah. Aku kira
Tuhan tidak akan mengabulkan keinginanku, tapi ternyata Tuhan
memberikannya. Tuhan Maha Baik.
Sekotak kenangan berisi sudut-sudut ruangan dan wanginya
yang akan aku rindukan setiap harinya. Untuk pergi setiap jam menunjukkan pukul
setengah delapan pagi, untuk menghindari keterlambatan. Lalu mengomel di dalam
hati, sebab motor yang terjepit susah untuk dikeluarkan dari garasi. Senyum
pertama setiap hari, untuk pak satpam di depan kantor, atau untuk ibu-ibu
penjual nasi pecel yang akan kupesan dengan nasi sedikit, tanpa tempe dan tahu.
Lalu mungkin pagi itu, aku akan mulai berbincang hangat
dengan topik ala ibu-ibu, ketika aku membawa sarapanku ke ruang keuangan.
Mampir makan, dan mampir tertawa sebentar.
Tak lama setelah itu, aku akan menaiki satu persatu anak
tangga untuk menuju ke ruanganku yang seharusnya. Menyalakan CPU Komputer, dan
mulai menganalisis segala macam hal. Membuka lembar-lembar kertas berkali-kali
untuk memahami isinya. Membenahi kata-kata dari file yang tidak karuan
bahasanya. Mengeprint apa saja untuk dijadikan bukti temuan, serta berbincang
santai dengan rekan kerja di ruangan yang memang sepi ini. Aku ingat aku tidak
suka bau parfum ruangannya. Aku juga tidak suka dengan tuts keyboard yang tidak
nyaman ini. Tapi aku suka segala suasananya. Tentang dering teleponnya, aku suka
sekali mengangkat telepon. Di telepon, aku menempelkan dua nomer ekstensi di
sebuah sticky notes berwarna kuning. Ekstensi untuk kepala SPI dan ekstensi
untuk ruang IT. Hanya dua ekstensi, karena hanya itu yang paling sering
dibutuhkan.
“Halo.. Pak Harmijannya ada?”
“Langsung hubungi ekstensi xxx”
Aku hanya butuh satu nomer ekstensi untuk kutelepon, yaitu
ekstensi ruang IT. Maklum, aku memang tidak cukup memahami barang-barang
elektronik. Trouble seringkali datang silih berganti, lalu membawa kenangan~
Aku akan selalu berdebar ketika mendengar suara pintu
dibuka, sebab aku sedang bermain HP atau membuka whatsapp lewat komputer. Dasar
karyawan baru yang tidak taat -_- termasuk saat menulis tulisan ini, pasti aku
akan berdebar ketika bapak ka.spi tiba-tiba keluar dan menyaksikanku sedang
mengetik entah-tulisan-apa-ini.
Tak lama kemudian, pak mul akan datang untuk mengambil gelas
kotor dan meletakkan gelas bersih. Pak Mul yang murah senyum dan tidak pernah
terlihat letih :”
Kemudian, menit-menit berganti. Ketika jam menunjukkan pukul
sepuluh, aku akan selalu menatap jam berkali-kali kemudian. Berharap saat
istirahat akan segera datang. Atau saat-saat aku disuruh pergi ke ruang
keuangan atau fotocopy, aku suka sekali disuruh keluar ruangan. Cukup untuk
mengatasi kantuk dan rasa bosan untuk duduk.
Tepat jam dua belas, ruangan pasti sudah sepi. Aku akan
menjadi orang terakhir yang keluar ruangan dan diperintahkan untuk mematikan
lampu-lampu. Lalu melangkah pergi menuju anak-anak tangga lagi, menuju ruang
keuangan untuk makan, atau mencari teman untuk makan di luar. Menuju
parkiran, lalu pergi mencari makanan.
Terdapat waduk tepat di belakang kantor. Di belakangnya lagi
terdapat berbagai macam PKL yang menjual makanan. Banyak sekali jenis makanan
yang dijual, tapi tetap saja paling ujung-ujungnya makan soto. Alasannya
sederhana, ingin yang berkuah. Tapi aku juga tidak tau sejak kapan jadi addicted
dan sering merindukan soto. Lalu aku makan, selalu jadi yang paling lama.. dan
yang paling dibully :” katanya dibully biar betah disini. Nyatanya, aku betah
disini, tapi jalan hidup lain harus diambil.
Setelah makan, mungkin kami akan berbincang santai sembari
menunggu puntung-puntung rokok habis untuk dihisap. Menikmati
perbincangan-perbincangan soal kenangan dan apa saja yang patut untuk
dibicarakan.
Sepulangnya, aku akan pergi kembali ke ruang keuangan untuk
berwudhu bergantian, kemudian sholat bersama-sama. Baru pada pukul satu
musholla akan bisa digunakan, karena jam untuk tidur di musholla telah selesai.
Seringkali kita berjamaah dan saling menunggu jamaah lain untuk sholat.
Aku tidak suka bau pengharum ruangan di ruang SPI, tapi aku
suka bau pengharum ruangan di ruang keuangan. Seperti halnya aku suka keramaian
di ruang keuangan dan tidak suka kesunyian di ruang SPI.
Jam satu lebih aku akan kembali ke ruang SPI, menikmati tugas-tugas yang mendadak datang silih berganti, menunggu jam sholat ashar untuk bisa mencari-cari alasan keluar dari ruangan dan kembali ke ruang keuangan untuk menyapa semua orang yang sedang asyik bekerja, kemudian mengacau mengajak sholat siapa saja yang bersedia.
Setelah sholat ashar adalah jam-jam yang paling tidak
efektif untuk bekerja kembali, pikiran untuk segera sampai di kasur dan
meluruskan punggung sudah menjadi angan-angan. Angka dan kertas-kertas yang
terserak akan tetap terserak sambil mengatakan, “besok aja ya dikerjainnya..”
Jam lima menjadi jam yang paling ditunggu-tunggu, untuk
kembali menyapa semua orang yang ada. Derap-derap langkah kaki ramai terdengar
di lantai satu maupun lantai dua. Semua orang yang berbahagia karena waktunya
pulang kerja. Ibu-ibu bisa kembali mengasuh putra atau putrinya, bapak-bapak
juga bisa kembali bertemu istri dan anaknya, yang belum menikah akan kembali ke
kasur untuk tidur saja :)
0 komentar:
Posting Komentar