Bekerja tidak lagi sama seperti fase hidup sebelumnya.
Menginjak usia produktif, manusia dituntut untuk menghidupi dirinya sendiri.
Tidak lagi seperti dunia kuliah yang indah dimana hidup hanya perlu belajar
tanpa perlu memikirkan uang datang darimana. Lulus kuliah, kita tak lagi
meminta uang kepada orang tua untuk hura-hura, tapi menabung untuk
mempersiapkan diri menjadi orang tua selanjutnya.
Februari 2016 lalu, saya resmi menyandang gelar sarjana.
Sebuah gelar yang selama ini saya impi-impikan hingga saya bersemangat untuk
mengerjakan skripsi cepat-cepat, agar segera selesai, lalu wisuda dan kemudian
bekerja. Selama kuliah, saya selalu melakukan yang terbaik sebisa saya,
menggali ilmu sedalam mungkin dan berjejaring sebisa saya. Saya tergabung dalam
beberapa organisasi di dunia perkuliahan. Sinematografi Airlangga, Lembaga Pers
Mahasiswa Sektor FEB Unair dan Lembaga Pers Mahasiswa Mercusuar. Pengalaman
berorganisasi yang saya miliki saya rasa sudah cukup, dan saya sudah merasa
senang memiliki kawan dari berbagai macam background dan kepribadian.
Setelah lulus, saya pun terburu-buru untuk mencari
pekerjaan. Berbagai lowongan untuk lulusan sarjana saya daftar.
Ibu saya sesekali menanyakan kepada saya, “apa nggak S2 aja
dulu? Kamu lho jek cilik gak pantes bekerja...” lalu saya tetap bersikukuh
ingin bekerja. Simpel saja alasannya, saya bosan belajar, saya ingin mencoba
bekerja, saya ingin punya uang sendiri. Padahal sebenarnya saya tahu benar
bahwa saya tidak pernah bosan belajar, saya suka belajar dan menumpuk ilmu-ilmu
teoritis dalam pikiran saya. Hanya teori saja, namun tak pernah diaplikasikan
tanpa bekerja.
Pengalaman menjadi jobseeker
saya mulai dari memasuki jobfair-jobfair, membuka berbagai macam website jobseeker, serta membuka langsung
website-website perusahaan. Setiap kali mendaftar, saya menuliskannya dalam
catatan saya. Hingga saya menulis artikel ini, tercatat 79 lowongan perusahaan
pernah saya daftar. Hanya belasan perusahaan yang memanggil saya untuk mengikuti
tes kerja mereka.
Pada awal-awal pencarian kerja, banyak sarjana pencari kerja
yang memiliki gengsi tinggi dan keinginan yang banyak sekali. Keinginannya
rata-rata adalah kerja dekat dengan orang tua, perusahaan besar, gaji tinggi,
dan kerjanya nggak susah-susah amat. Hellow,
emangnya perusahaannya mbahmu..
Tapi lama-kelamaan jobseeker
sarjana ini akan menyadari bahwa hidup tak seperti keinginan dan gengsi mereka.
Perlahan mereka turunkan segala macam standard yang telah ditetapkan
sebelumnya. Mereka sadar bahwa keinginan mereka tidak sebanding dengan
kemampuan yang mereka miliki. Berbekal IPK yang bagus dan dari universitas yang
bonafide bukan berarti bahwa mereka
akan bisa bekerja dengan baik. Perusahaan mencari orang yang sesuai dengan yang
mereka inginkan, bukan orang pintar tapi orang yang cocok dengan budaya
perusahaan tersebut.
Berikut adalah cerita mengenai pengalaman saya sebagai jobseeker.
Pertama kalinya saya mencari kerja adalah di jobfair yang
diadakan oleh sebuah website karir. Berlokasi di jalan tunjungan, saya dan
sahabat saya, wida, pergi kesana dan menyaksikan seperti apa jobfair
sebenarnya. Saat itu keinginan kita adalah sama: hanya mendaftar perusahaan
yang berlokasi di Surabaya. Kami mendaftar di tiga perusahaan yang sama,
kemudian saya ditelepon oleh salah satu perusahaan rokok yang berlokasi di
Pasuruan. Itu pertama kalinya saya diundang untuk mengikuti interview kerja.
Namun pada akhirnya saya tidak jadi datang ke tempat
interview, alasannya logis saja. Lokasinya jauh dari rumah saya di Sidoarjo dan
itu adalah perusahaan rokok yang “tidak terlalu besar”. Alasan yang paling
penting adalah : Tidak boleh ibu saya. Titik. Restu orang tua adalah segalanya.
Kemudian saya dan Wida pergi lagi ke jobfair kami yang
kedua, yakni berlokasi di Jl. Ahmad Yani Surabaya. Disana kami mendaftar di
lima perusahaan. Salah satu perusahaan langsung mengundang kami untuk mengikuti
tes tulisnya. Namun, kami berdua tidak datang alasannya adalah karena menurut
review di kaskus dan di internet, perusahaan tersebut memiliki usaha yang tidak
jelas dan komentar-komentar buruk lainnya.
Di jobfair kami yang ketiga, kami sudah memiliki SKL.
Jobfair ini diselenggarakan di Balai Pemuda. Beberapa hari kemudian, kami
diundang tes di Bank BTPN di posisi OMDP. Tes Bank BTPN diadakan di aula kampus
C Unair. Itu adalah tes pertama saya, saya begitu kaget ketika melihat dandanan
peserta tes lainnya yang rata-rata berpakaian begitu rapi, yang perempuan
mengenakan blazer, celana kain dan bahkan banyak diantaranya menggunakan high heels. Sementara saya berpakaian
ala-ala anak kuliahan biasa. Kemeja, celana jeans dan sepatu kets.
Tes pertama adalah psikotes, kemudian beberapa jam kemudian
langsung diumumkan peserta yang lolos psikotes. Ada beberapa peserta yang
lolos, kemudian peserta yang lolos dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk
kemudian diadakan FGD. Inilah pengalaman FGD pertama saya.
Saat itu, pertanyaan yang diajukan adalah mengenai sistem yang dimiliki oleh sebuah apotek. Apotek ini memiliki beberapa bagian yang terpisah mulai dari customer service, kurir, bagian gudang, bagian akuntansi dan bagian quality control. Lalu kira-kira bagian mana yang seharusnya dihapus? Bagaimana cara agar pelayanan apotek yang sekarang membutuhkan waktu satu jam dari orang memesan hingga obat diterima dapat menjadi lebih cepat? Nahloh? Saya hanya nyengir-nyengir saya kurang paham. Diskusi berlangsung dan ini benar-benar bukan diskusi biasa karena ada orang yang mendengarkan dan menilai diskusi kami.
Saat itu, pertanyaan yang diajukan adalah mengenai sistem yang dimiliki oleh sebuah apotek. Apotek ini memiliki beberapa bagian yang terpisah mulai dari customer service, kurir, bagian gudang, bagian akuntansi dan bagian quality control. Lalu kira-kira bagian mana yang seharusnya dihapus? Bagaimana cara agar pelayanan apotek yang sekarang membutuhkan waktu satu jam dari orang memesan hingga obat diterima dapat menjadi lebih cepat? Nahloh? Saya hanya nyengir-nyengir saya kurang paham. Diskusi berlangsung dan ini benar-benar bukan diskusi biasa karena ada orang yang mendengarkan dan menilai diskusi kami.
Saya begitu hopeless
karena tidak maksimal dalam menyampaikan pendapat saya dan ide yang saya
utarakan memang tidak terlalu bagus dibanding yang lainnya. Saya merasa sering
berdiskusi dalam forum-forum lembaga pers, tapi ya...beda. Ini tidak biasa
karena ada orang yang menilai dan memperhatikan di belakang. Akhirnya, FGD
pertama saya gagal, saya anggap ini adalah salah satu pelajaran dan pengalaman
mencari pekerjaan bagi saya.
Pengalaman sebagai jobseeker
lainnya masih akan diupdate dalam artikel-artikel selanjutnya. Selamat
membaca :)
0 komentar:
Posting Komentar