Jika pertemuannya
hanya satu tahun sekali, setiap pertemuan akan menjadi sangat dirindukan. Seperti
sepasang kekasih yang jarang berjumpa, setiap pertemuan akan menjadi sangat
berharga.
Pagi ini, 17 Agustus 2016, hari
kemerdekaan Indonesia yang ke-61. Sejak pagi saya mengamati timeline di media
sosial path, semua beramai-ramai
mengucap selamat ulang tahun untuk bangsa Indonesia. Begitulah, dan memang
selalu begitu setiap tahunnya.
Ada banyak hal yang ditunggu masyarakat Indonesia
tiap hari kemerdekaan tiba. Di desa saya contohnya, setiap malam sebelum
tanggal 17 Agustus akan diadakan syukuran RT. Warga RT akan menggelar tikar di
jalan raya dan tiap rumah diwajibkan untuk membawa makanan untuk dipertukarkan
di sana. Suasananya ramai sekali, sebab walaupun rumah berdempet-dempetan,
bukan berarti semua orang akan bisa dengan mudah bertemu. Kenyataannya, saya
sendiri sudah lupa kapan terakhir kali bertemu dengan tetangga mepet sebelah
rumah saya, mungkin satu bulan yang lalu. Sedih sekali ya. Tapi begitulah,
setiap malam 17 Agustus semua warga dengan semringah keluar dari rumahnya
masing-masing untuk duduk bersama bercakap sambil makan-makan, mungkin makanan
yang berbeda dari yang biasa mereka makan sehari-harinya. Atau mungkin makan bersama yang membuat semua makanan menjadi lebih lezat ketika dimakan.
Selain itu, ornamen-ornamen
kemerdekaan tentu saja sudah menghiasi desa, tiap rumah diwajibkan untuk
memasang bendera merah putih di pintu masuk rumahnya. Sudahlah, setiap tanggal
17 Agustus, bisa dipastikan, hampir semua warga Indonesia pasti sadar jika itu
adalah hari kemerdekaan Indonesia!
Bocah-bocah yang masih usia
sekolah, semuanya pasti juga sangat menyadari bahwa ketika memasuki bulan Agustus,
tiba-tiba banyak lomba-lomba yang diadakan oleh dinas pendidikan. Salah satunya
adalah lomba cerdas cermat. Saya ingat benar, ketika SD saya diikutkan dalam
lomba cerdas cermat agama islam oleh SD saya. Ketika itu, rasanya bahagia
sekali karena saya diajak naik mobil untuk menuju ke Kota Sidoarjo demi
mengikuti lomba itu. Saat SMP, kembali saya diikutkan pula dalam lomba cerdas
cermat yang dilaksanakan di SMAN 1 Sidoarjo. Begitu bahagianya hati saya karena
bisa mewakili sekolah dalam suatu lomba. Bagi saya, hal itu adalah beban besar
karena saya datang membawa nama baik sekolah saya. Itu hanya secuil contoh
saja, saya yakin hingga saat ini banyak pula anak-anak sekolah yang dengan
bangga diikutsertakan oleh sekolahnya dalam suatu perlombaan untuk mewakili
sekolah. Itu hanya yang terjadi di sekolah, hal lain yang terjadi di rumah adalah banyak
perlombaan ala 17an yang lain seperti lomba memasukkan paku ke dalam botol,
lomba memasukkan benang dalam jarum, lomba makan kerupuk, kepruk kentung dan
sebagainya.
Sejak kecil, bagi saya momen 17an selalu sangat menyenangkan karena
pada dasarnya saya memang sangat menyukai tantangan dan perlombaan. Kebahagiaan
untuk mendapat hadiah berupa selusin buku akan lebih membahagiakan dibanding
ibu saya yang membelikan buku secara cuma-cuma untuk saya.
Pada akhirnya, di momen 17
Agustus tahun ini, saya tidak dapat ikut serta dalam syukuran di RT saya karena
saya sedang berada di kos-kosan. Tapi, di pagi hari tanggal 17 Agustus kali ini
saya berkesempatan dan diwajibkan untuk menjadi salah satu peserta upacara
bendera di kantor saya. Sejak awal upacara dimulai, saya terus memutar otak
saya untuk mengingat kapan terakhir kali saya mengikuti upacara bendera. Saya
ingat! Terakhir kali saya mengikuti upacara bendera adalah saat saya sedang
melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Desa Pulowetan Kecamatan Jatikalen
Kabupaten Nganjuk. Saat itu hari senin terakhir saat masa KKN saya dimana kelompok
KKN saya akan memberikan hadiah bagi siswa berprestasi di kelas 6 SD. Ah itu
sudah setahun yang lalu.
Pada kenyataannya, saya merindukan upacara. Hal itu yang menyebabkan saya semakin khidmat mengikutinya. Apakah sebenarnya khidmat yang dimaksud dalam sebuah upacara? Apakah renungan-renungan yang terdapat di benak setiap orang yang menjadi peserta upacara? Saya yakin bahwa setiap peserta upacara akan memikirkan hal yang berbeda-beda ketika mengikuti upacara.
Setelah itu, pikiran saya melambung kemana-kemana,
saat upacara di SD saya, ketika saya lupa membawa dasi atau topi. Kemudian saat
upacara di SMP saya, biasanya saya menjadi protokol atau pendamping protokol
upacara. Ketika SMA, saya menjadi tim PMR yang berada di belakang peserta
upacara untuk membantu apabila ada siswa yang sakit ketika mengikuti upacara. Jika tidak menjadi anggota PMR, saya akan menjadi peserta upacara yang tidak khidmat ketika mengikuti upacara. Sebab saya tidak rindu upacara. Setiap senin saya akan terpaksa mengikuti upacara, bahkan sebisa mungkin membuat alasan untuk bisa menghindari upacara. Jika terpaksa harus menjadi peserta, maka saya akan ricuh dan terus bercanda saat upacara berlangsung. Ah, upacara memang membawa kenangan.
Upacara di kantor memiliki
banyak perbedaan dengan upacara-upacara yang pernah saya ikuti sebelumnya. Tentu saja. Begitu pula
saya sendiri selaku peserta upacaranya. Kini usia saya sudah hampir mencapai 22
tahun, saya telah melewati fase-fase kehidupan di masa kuliah dimana idealisme
saya sedang di puncak-puncaknya. Fase dimana banyak sekali pertanyaan saya mengenai semua hal, termasuk soal sejarah indonesia dan budaya upacara. Pikiran saya menerawang menuju apa sebenarnya
yang sedang saya lakukan di upacara bendera saat ini. Saya menikmati dengan
khidmat upacara bendera ini. Saya mengamati bendera yang sedang dinaikkan
keatas, sambil menyanyikan pelan lagu Indonesia Raya. Ah, entah kapan terakhir kali saya nyanyikan lagu ini. Kenapa di TV malah lebih marak diperdengarkan mars per*ndo daripada lagu Indonesia Raya?
Saya amati bendera merah dan putih yang sedang dikibarkan. Bendera Indonesia. Lagi-lagi saya berpikir, apa sebenarnya
Indonesia? Untuk apa upacara yang saya lakukan? Saya masih berpikir. Hingga
bendera akhirnya sampai di atas tepat pada saat lagu Indonesia Raya selesai. Hingga inspektur upacara selesai menyampaikan sambutan
dari bapak gubernur. Hingga upacara selesai. Hingga upacara dibubarkan. Saya
masih khidmat berpikir.
0 komentar:
Posting Komentar